CERPEN
G.P.P
Dibalik cueknya seseorang terdapat
perhatian dan perjuangan yang tiada batas.
Hidup
Kehidupan yang sebenarnya adalah seberapa kita
berjuang untuk diri sendiri maupun keluarga. Namun apa yang terjadi jika
perjuangan kita tidak dihargai? Ingin berteriak, tapi tak bisa. Semuanya aku pendam, karena itulah sikapku menjadi seenaknya.
"Lia! Bereskan cepat! Kamu itu
anak perempuan, bagaimana bisa baju berantakan seperti ini?!" Bentak ibuku.
"Malas, Ibu saja." Bergegas
untuk berangkat sekolah.
"LIA!!!" Teriak ibu dan aku mengabaikannya.
Buruk sekali sikapku ini dan anehnya
aku tidak merasa bersalah sekalipun. Disekolah aku tidak mempunyai teman,
tepatnya aku dijauhi karena sikapku ini. Walaupun begitu, aku selalu peringkat pertama seangkatan.
"Hmm.. Lia?" Seseorang
memanggil.
"....."
"Lia?" Ia memanggil lagi.
Aku menatapnya dengan tajam dan
bermaksud untuk mengusirnya.
"Bisakah kau hentikan tatapanmu
itu?" Tiba-tiba saja makhluk astral muncul "Ah maafkan pacarku ini,
jadi apa yang kalian ingin bicarakan?" Tanyanya dengan ramah.
"Tugas kelompok, kami ingin
membaginya. Ini bagiannya, besok harus sudah dikumpulkan." Kata orang
tersebut
"Baiklah, bisa kau serahkan
saja padaku?" Tanyanya lagi.
"Ya!" Jawabnya dan
langsung pergi dengan perasaan lega.
"Kau ini, berhentilah bersikap
seperti itu! Bagaimana kau bisa mendapatkan teman?" Tanyanya.
"Bisakah kau diam?" Ucapku
kesal.
"Tidak, karna aku adalah
pacarmu."
"Kau bukan siapa-siapa."
Aku pergi menuju kantin dan merebut tugas tersebut.
Leo adalah temanku sejak lahir. Aku
dan dia lahir pada tanggal, bulan serta tahun yang sama bahkan jam yang sama.
Aneh bukan? Kami juga lahir di rumah sakit yang sama, oleh sebab itu kami
saling mengenal, tentu saja orang tua kami yang berkenalan terlebih dahulu.
Dia sangat mengerti diriku sampai
mengaku-ngaku bahwa aku pacarnya. Menyebalkan bukan? Ya, karena aku sudah
terbiasa, itu sudah bukan hal yang aneh.
ü
Saat dikantin....
Aku memakan bakso sambil mengerjakan
tugas yang telah diberikan.
"Wahh, tidak kusangka kau
serajin ini." Ucap Rai.
Rai adalah teman sekelasku yang
sangat usil, dia sangat tidak terganggu dengan sikapku ini.
"......" Tentu saja aku
mengabaikannya.
"Hey, bagaimana kalau kau
mengajariku? Agar aku bisa mengalahkanmu. Kesal juga lama-lama selalu
diperingkat 2. Padahal aku kan sudah rajin." Ucapnya panjang lebar.
Aku masih mengabaikannya.
Aku masih mengabaikannya.
"Lia, jawab dong, masa aku di
kacangin terus." Pintanya.
"......"
Lalu dia diam sambil melihatku selama
10 menit dan mulai mengoceh kembali.
"Liaaaa.... Ayolahh."
Aku bangkit, membayar bakso dan pergi
menyerahkan tugas.
"Akhh, cewek ini."
Gumamnya.
ü
Saat bel pulang aku tidak langsung
pulang kerumah. Melainkan ke perpustakaan sampai jam 6. Lalu pergi ke
tempatku bekerja. Aku bekerja di sebuah cafe mini. Aku suka sekali cafe in karena gayanya yang klasik
disertai iringan musik yang membuat suasana cafe menjadi nyaman.
Aku melakukan semua ini, karena aku
tidak ingin memakai uang orang tuaku. Karena mereka juga yang membuat aku menjadi seperti ini.
Beruntunglah aku memiliki otak yang super sehingga aku mendapatkan beasiswa
full sampai aku lulus nanti.
Waktu sudah menunjukan pukul 10
malam, saatnya aku pulang. Aku setiap hari selalu sampai pada pukul 11 malam,
itu pun kalau jalanan lancar.
Sesampainya aku di rumah, aku langsung bersih-bersih dan lekas tidur. Inilah kegiatanku, kecuali hari Sabtu dan Minggu beserta hari libur lainnya, biasanya aku kerja mulai pukul 3 sore sampai pukul 8 malam, lalu pergi ke perpustakaan kecil tepat di belakang cafe ini, karena perpustakaan ini selalu buka 24 Jam.
Sesampainya aku di rumah, aku langsung bersih-bersih dan lekas tidur. Inilah kegiatanku, kecuali hari Sabtu dan Minggu beserta hari libur lainnya, biasanya aku kerja mulai pukul 3 sore sampai pukul 8 malam, lalu pergi ke perpustakaan kecil tepat di belakang cafe ini, karena perpustakaan ini selalu buka 24 Jam.
kreekkk
Prangggg......
Baru saja aku membuka pintu kamarku guna mengambil segelas air. Suara gelas dan piring sudah terdengar.
Sudah tidak aneh bagiku melihatnya. Kedua orang tuaku selalu saja berantem, entah itu masalah keuangan atau masalah mereka sendiri. Aku sudah tidak ingin tahu.
Baru saja aku membuka pintu kamarku guna mengambil segelas air. Suara gelas dan piring sudah terdengar.
Sudah tidak aneh bagiku melihatnya. Kedua orang tuaku selalu saja berantem, entah itu masalah keuangan atau masalah mereka sendiri. Aku sudah tidak ingin tahu.
"Ma, pa, bisa ngga sih sehari
ngga berantem?" Pintaku kesal.
"Oh Lia, anak mama yang paling tidak berguna! Mau kemana kamu? Mau keluyuran malem-malem? Dasar anak kurang ngajar!" Omel mama sambil melempar gelas dan membuat lenganku terluka.
"Mama! Apa-apaan sih? Cukup! Lia
kan ngga pernah ngerepotin kalian! Kalian yang selalu merepotkan Lia!"
Bentak kakaku.
"Oh jadi kamu membela adikmu yang
ngga berguna?!" Bentak Mama.
"Sudah! Sana kembali ke kamar
kalian! Dan kamu aku masih ada urusan denganmu." Kali ini Papa yang
berteriak sambil menunjuk Mama.
"Ayo Lia." Ajak kakak.
"Ka, kapan ini berakhir ka? Kenapa
selalu aku yang jadi korban?" Keluhku begitu sampai kamar.
Kakak mendengarkan sambil mengobati lenganku yang terluka.
Kakak mendengarkan sambil mengobati lenganku yang terluka.
"Kenapa aku selalu dimarahi dengan apa yang tidak aku perbuat?" Keluhku.
"Sudah, kamu ngga usah
memikirkannya. Kakak tau kamu berjuang demi dirimu sendirikan? Nah 2 bulan kamu UN, lebih baik kamu belajar dan kuliah sesuai minatmu. Soal
biaya, biar kakak yang menanggung, kakak sudah menyiapkannya. Jadi kamu fokus
belajar saja." Ucap kakak yang menenangkan hati sekaligus membuatku
menangis.
"Maaf ka, karena kakak memiliki
adik yang ngga berguna." Ucapku lirih.
"Tidak, kamu adalah adik kakak
paling cantik dan kuat. Kakak jamin itu. Nah kakak kembali ke kamar ya. Tidur
yang nyenyak." Ucap kakak dengan menutup pintu pelan.
Tio, itulah nama kakakku, dia 5
Tahun lebih tua dariku dan tidak memiliki seorang kekasih, bagi kakak itu tidaklah penting.
Kakak terlalu sibuk dengan kehidupan kami. Kakak yang selama ini membiayaiku.
Aku selalu bertanya entah kepada siapa, "kenapa keluarga yang sudah hancur gini masih bertahan?" Pertanyaan ini selalu saja terbesit dikepalaku.
Aku selalu bertanya entah kepada siapa, "kenapa keluarga yang sudah hancur gini masih bertahan?" Pertanyaan ini selalu saja terbesit dikepalaku.
ü
Masa
Lalu
Dulu, keluargaku merupakan keluarga
yang sangat harmonis. Aku memiliki kembaran perempuan bernama Nia. Nia gadis
lemah dan baik, beda sekali denganku yang seperti laki-laki ini. Kedua orang
tuaku begitu memerhatikan Nia, Nia adalah anak kesayangan mereka. Tetapi, beda
dengan Kakak. Kakak berperilaku adil terhadap kami. Jika aku salah, kakak akan memarahiku, begitu pula dengan Nia. Sangat berbeda dengan orang tua kami. Nia salah selalu dibela, sedangkan aku biarpun benar selalu disalahkan.
Oleh sebab itu, Nia menjadi anak yang sombong dan selalu merendahkan orang lain. Orang tuaku selalu menuruti apapun yang Nia mau, bahkan Nia lebih cantik dariku. Saat itulah aku merasa tidak dianggap.
Saat pembagian rapot, mama dan papa tidak percaya bahwa Nia peringkat terakhir dikelasnya, sedangkan aku selalu peringkat pertama. Sosok sempurna namun otak kosong, Tuhan memang adil.
Oleh sebab itu, Nia menjadi anak yang sombong dan selalu merendahkan orang lain. Orang tuaku selalu menuruti apapun yang Nia mau, bahkan Nia lebih cantik dariku. Saat itulah aku merasa tidak dianggap.
Saat pembagian rapot, mama dan papa tidak percaya bahwa Nia peringkat terakhir dikelasnya, sedangkan aku selalu peringkat pertama. Sosok sempurna namun otak kosong, Tuhan memang adil.
Plak!
"Kamu ini! Kenapa bisa
peringkat pertama? Anak sepertimu adalah pembawa sial!" Ucap mama menamparku
dan jahatnya Nia senang akan penderitaanku.
"Sebagai hukumannya, besok kamu
dilarang ikut!" Bentak Ayah dan membawa Nia untuk bersiap-siap liburan ke
Pantai.
Aku benci hidup ini, mengapa mereka
seperti itu? Pantaskah orang tersebut memperlakukan anaknya seperti ini? Kenapa
aku dilahirkan sebagai kembarannya? Mengapa aku lahir dari perut mama? Inilah pemikiran anak kelas 5 SD. Sangat jarang
bukan?
Mereka berangkat pagi-pagi sekali
dan tidak mempedulikanku, kecuali kakak yang selalu banting tulang untukku dan
keluarga.
"Ka, kakak ngga ikut?" Tanyaku.
"Buat apa kakak ikut? Lebih
baik kakak cari uang bukan?"
"Buat apa kakak cari uang? Kan
Papa juga masih membiayai kita."
"Ini buat kamu, kakak bakal
membuat kamu jadi anak yang sukses tentu saja dengan usahamu sendiri. Kakak yakin
suatu saat nanti mama dan papa bisa menerimamu."
"Memang kakak diterima?"
"Kakak diterima hanya sebagai
mesin uang saja.
"Mesin uang?"
"Mesin uang?"
"Nanti juga kamu mengerti. Nah
mau bantuin kakak ngga?"
"Bantu apa ka?"
"Tulis karanganmu, nanti Kakak
kirim ke salah satu majalah tempat kakak bekerja."
"Emang anak kelas 1 SMA boleh kerja?"
"Boleh dong, karena sekolah kakak mengizinkannya."
"Wahh, hebat!"
"Nah, sekarang kamu mau buat karangannya kan?"
"Mau ka!"
Kakak tersenyum senang.
"Wahh, hebat!"
"Nah, sekarang kamu mau buat karangannya kan?"
"Mau ka!"
Kakak tersenyum senang.
Perlahan tapi pasti, aku membuat karanganku dan kakak selalu membantuku. Kakak akan mengoreksi karanganku dan meminta aku untuk memperbaikinya ketika ada yang salah. Kegiatan ini selalu kami lakukan ketika sedang berdua saja. Siapa
sangka karangan anak kelas 5 SD selalu saja dipubliksikan di majalah tersebut.
Alangkah senangnya diriku saat mengetahuinya.
Saat upacara kelulusanku dan Nia, kami
melanjutkan ke sekolah yang berbeda. Nia yang saat itu memandangiku jijik
karena aku berhasil masuk ke SMP Favorit dan dia masuk ke SMP Swasta pilihannya,
yang menurut dia keren.
Kehidupanku terus berlanjut sampai aku kelas 2 SMP. Nia mengkonsumsi obat-obatan terlarang, aku yang mengetahuinya pun terkejut, Nia benar-benar sudah salah bergaul. Aku mendiskusikannya dengan Kakak dan diam-diam kami mengobatinya dengan mengganti obat-obatan itu menjadi permen, rokok pun juga, namun sayangnya itu semua tidak berhasil. Nia sudah kecanduan, dia tidak bisa berhenti mengkonsumsinya dan merokok. Mama dan papa masih membiarkanya, mereka takut dibenci anak kesayangannya itu. Nia juga dikeluarkan dari sekolah karena sikapnya, dia tidak terima dimanapun, kecuali sekolah kecil yang dekat dengan rumah, lega sekali diriku yang mengetahuinya. Hingga kejadian itu pun muncul.
Kehidupanku terus berlanjut sampai aku kelas 2 SMP. Nia mengkonsumsi obat-obatan terlarang, aku yang mengetahuinya pun terkejut, Nia benar-benar sudah salah bergaul. Aku mendiskusikannya dengan Kakak dan diam-diam kami mengobatinya dengan mengganti obat-obatan itu menjadi permen, rokok pun juga, namun sayangnya itu semua tidak berhasil. Nia sudah kecanduan, dia tidak bisa berhenti mengkonsumsinya dan merokok. Mama dan papa masih membiarkanya, mereka takut dibenci anak kesayangannya itu. Nia juga dikeluarkan dari sekolah karena sikapnya, dia tidak terima dimanapun, kecuali sekolah kecil yang dekat dengan rumah, lega sekali diriku yang mengetahuinya. Hingga kejadian itu pun muncul.
"Lia! Kenapa sih kamu selalu
saja beruntung?" Bentak Nia didepan keluargaku.
Saat itu kami sedang di ruang makan.
Kakak dengan sigapnya melindungiku beserta pandangan jijik dari kedua orang tuaku sendiri.
"Maksudmu apa?" Tanyaku.
"Kamu selalu saja disukai
banyak orang, padahal sikapmu jelek dan mukamu juga jelek! Nilaimu selalu
bagus! Kau selalu memenangkan lomba apapun itu! Kau tau? Aku senang sekali
merebut semuanya, perhatian kedua orang tua kita dan teman-teman. Tetapi, Kasih
sayang kakak dan nilaimu yang tidak bisa kumiliki ini. Aku sangat membencimu!
Kenapa kamu yang harus jadi kembaranku?!" Bentaknya sambil membantingkan
gelas.
"Cukup Nia! Kau salah, semuanya menyayangimu. Mama, papa, kakak, bahkan aku. Bersyukurlah Nia
dengan apa yang kau miliki, tidak seperti diriku yang selalu diperlakukan buruk
oleh mama dan papa." Aku pun membalasnya dengan air mata yang berlinang.
"Inilah yang aku tak suka.
Dibalik sikapmu itu kau memiliki hati yang begitu lembut, tidak seperti diriku."
Katanya lirih.
"Nia.... Kau tetap kembaranku,
kau adalah adikku yang sangat aku sayangi."
"Aku senang mendengarnya,
Maafkan a-" Belum sempat Nia menyelesaikan perkataannya, Nia sudah kejang-kejang akibat konsumsi
obat-obatan terlarang itu. Terlambat sudah, Nia meninggal saat perjalanan
menuju rumah sakit. Ia memiliki tubuh yang lemah namun tetap mengkonsumsi obat-obat itu.
Sejak kejadian itu, mama berdiam
diri dikamar selama seminggu dan papa bekerja seadanya. Akibatnya papa dipecat
dan keadaan keluarga kami menjadi tidak stabil. Aku sudah berjuang keras agar mereka bangga padaku. Tetapi selalu saja
sentakan, tamparan serta makian yang aku dapatkan.
Lalu, aku memutuskan untuk tidak
berjuang lagi untuk mendapatkan perhatian mereka, aku tidak ingin membuat mereka bahagia. Buat apa? Semua yang telah
kulakukan sia-sia. Anak kesayangannya kini telah tiada. Apa kalian tau? Mama
pernah berkata "Coba saja kau yang meninggal, hidup kami pasti tidak akan seperti
ini.". Bayangkan saja anak yang berusia 15 Tahun harus menerima
semua penderitaan ini. Aku mulai menulis cerpen dan novel. Aku sudah menjadi
penulis sejak menginjak bangku SMA. Nama penaku adalah Aliya.
Kini aku sudah memiliki 3 novel dan
ratusan cerpen yang telah tersebar dibeberapa majalah. Dari sinilah aku bisa
hidup sendiri, lalu mencari pekerjaan sampingan untuk menambah biaya hidupku.
ü
Lulus
Hari ini sedang diadakan Try Out tingkat
Provinsi, lalu 2 minggu lagi Try Out sekolah. Aku melewatkan itu semua dengan mudah,
selalu saja mendapat nilai bagus diantara yang lain.
"Lia, kau ingin melanjutkan
kemana?" Tanya Leo.
"Bukan urusanmu."
"Wahh... kau menjawab, ini
merupakan kemajuan besar!" Teriaknya yang membuat seisi kelas melihat kami.
"Ada apa ini?" Rai menghampiri.
"Sana sana, jangan dekat-dekat
dengannya." Ucap Leo.
"Kau siapanya?" Timbal Rai.
"Pacarnya." Jawabnya
dengan enteng.
"Sudahku bilang berapa kali,
kau bukan pacarku!" Sambungku dengan kesal.
"Hey, mengaku sajalah. Ini
sudah takdir, kita memang jodoh." Jelas Leo.
Aku membalas dengan tatapan yang
penuh dengan kekesalan akan sikapnya itu.
"Oh iya, nilai MTK aku kali ini
78 lho." Ucap Leo bangga.
"Apa yang bagus? 78 ko bangga."
Timbal Rai ketus.
"Ini merupakan kemajuan besar,
orang sepertimu tidak akan mengerti. Iyakan Lia?" Balas Leo.
"Bisakah kalian diam? Kalian
sangat menganggu sekali!" Bentakku.
Leo menghela nafas, "baiklah baiklah
aku pergi." Leo pergi disusul Rai.
ü
Dipintu masuk cafe....
"Lia?" Melihatku dengan
heran.
"Silahkan, mari saya antar."
Ucapku.
"Lia, kau benar Lia?" Ucapnya
lagi.
"Ini menunya, Kakak ingin
memesan apa?"
"Ah lemon tea saja 1." Jawab
Rai sigap.
"Baiklah, mohon tunggu ya ka."
5 menit kemudian......
"Ini pesananya ka. Selamat menikmati."
"Lia," dia menggenggam
tangaku dengan erat, "bisakah kita bicara sebentar?"
Aku melepaskanya, tetapi dia
menggenggam tanganku lagi.
"Misi mas." Rai memanggil
sang kepala pelayan.
"Bisakah aku meminjam dia sebentar?"
Tanyanya.
"Ah baiklah Ka, kalau itu
memang diperlukan." Jawabnya.
"Terima kasih." Ucap Leo yang bangkit dan
langsung membawaku keluar.
Kami berada di samping cafe,
untungnya di samping cafe ini ada bangku yang membuat kami sedikit nyaman untuk
berbicara.
"Kau, apa kau akan
menyebarkannya?" Tanyaku.
"Tidak akan."
"Kalau begitu, ada perlu apa
sampai kau memimjamku seperti ini?"
"Jadi benar kau dalam masalah?
Keluargamu baik-baik saja?"
"Tau apa kau dengan
keluargaku?"
Dia melihatku sambil tersenyum dan
menceritakan semua yang dia tau. Memang tidak semua, tetapi itu memang benar.
Aku pun terkejut.
"Bagaimana kau bisa tau?" Tanyaku heran.
"Papamu bekerja di kantor bapakku. Ada masalah yang dimana papamu membicarakan semua itu dan ribut dengan bapakku. Saat itu aku tidak sengaja mendengarnya dan fasilitas bapakku membantuku
untuk mengikuti papamu, sampai aku mengetahui kamu. Aku tau seberapa keras kau
berjuang demi keluargamu, kau wanita yang sangat aku hormati sesudah ibuku Lia."
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Bagaimana pun juga, dia tetap menjaga rahasiaku.
"Aliya, itulah nama penamu. Aku
penggemarmu. Kau sangat hebat Lia."
Kali ini aku menitihkan air mata
yang selama ini kutahan dan kupendam. Rai menemaniku sampai aku berhenti
menangis.
"Terima kasih." Ucapku
lirih meninggalkan Rai dan kembali bekerja.
Rai hanya memandangku iba. Sejak
saat itu, Rai jarang menggangguku, diikuti dengan Leo yang serius menghadapi
ujian yang berdatangan.
ü
Hari pengumaman kelulusan pun tiba
dan 100% lulus semua. Senang sekaligus terharu, aku meninggalkan sekolah tanpa
kenangan manis. Sudah 3 minggu berlalu, selama itulah semua mempersiapkan acara
perpisahan kami. Aku datang ditemani Kakak. Baru kali ini aku berpakaian
layaknya seorang perempuan, semua memandangku heran dan aneh.
"Lia?" Panggil Leo.
"Iya?"
"Kau cantik sekali, sangat
cantik." Pujinya.
Mukaku sedikit memerah karena baru
kali ini ada orang lain yang memujiku.
Betul sekali. Kau sangat cantik Lia." Puji Rai.
Mukaku kembali memerah. Kakak hanya melihatku dengan senyumnya.
Betul sekali. Kau sangat cantik Lia." Puji Rai.
Mukaku kembali memerah. Kakak hanya melihatku dengan senyumnya.
Saat acara berlangsung aku duduk
tenang di tempat duduk yang sudah disediakan. Ada penghargaan kepada murid yang
paling berprestasi, itu adalah aku. Aku maju kedepan, tak lama lampu manjadi
padam dan terdengar suara nyanyian yang indah. Itu adalah Leo, suaranya yang
menggelegar membuat satu gedung terpana akan pesonanya. Rai mengiringinya
dengan keyboard.
Jeda beberapa menit, ada video yang menampilkan aktivitasku. Mulai dari perjalananku dari rumah ke sekolah, saat sedang membuat novel atau cerpen, saat belajar diperpustakaan, saat aku tertidur dikelas, bahkan saat aku bernyanyi di belakang sekolah. Semua itu diambil diam-diam oleh Leo dan Rai selama 3 Tahun aku menimba ilmu. Aku senang sekaligus terharu melihatnya.
Jeda beberapa menit, ada video yang menampilkan aktivitasku. Mulai dari perjalananku dari rumah ke sekolah, saat sedang membuat novel atau cerpen, saat belajar diperpustakaan, saat aku tertidur dikelas, bahkan saat aku bernyanyi di belakang sekolah. Semua itu diambil diam-diam oleh Leo dan Rai selama 3 Tahun aku menimba ilmu. Aku senang sekaligus terharu melihatnya.
Leo berhenti menyanyi dan suaraku
terdengar dalam video. Semua sangat terkejut mendengar suara yang begitu asing.
Suara asing itu adalah aku, aku yang saat itu sedang banyak masalah dan aku
menyanyi untuk melampiaskannya. Tak kusangka mereka bisa mengambil moment tersebut.
Lampu menyala kembali dan terlihat senyuman mereka yang mengarah padaku. Sorakan yang meriah membuat aku merasa senang. Aku melihat kakak, Leo dan Rai bergantian.
Aku pun tersenyum bahagia.
Aku pun tersenyum bahagia.
Acara perpisahan yang sangat berarti
bagiku. Aku tidak akan melupakannya. Aku sangat berterima kasih kepada Leo dan
Rai, karena merekalah aku merasa kerja kerasku dihargai.
"Terima kasih Leo, Rai. Aku
senang sekali."
"Hahahaa rasanya bukan seperti
kau saja." Jawab Leo.
"Tidak masalah. Kapan pun kamu
butuh bantuan kami siap membantu." Ucap Rai.
Aku bersyukur sekali mengenal kalian berdua.
ü
Puncaknya
6 Tahun sudah terlewati, kini aku bekerja disalah satu perusahaan yang cukup besar di Negeri Sakura.
Aku mendapatkan beasiswa full untuk kuliah di Jepang selama 5 Tahun, 5 Tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Kali ini aku pulang ke Indonesia.
Kakak sudah menantikan kepulanganku, Aku senang sekali. Selama di Jepang, aku
hanya video call saja dengan kakak, namun selama 3 bulan ini kami tidak
melakukannya dan 2 minggu yang lalu merupakan kali terakhir aku video call dengan kakak.
"Aku akan kejutkan kakak nanti." Pikirku.
"Aku akan kejutkan kakak nanti." Pikirku.
Keinginanku untuk bertemu kakak musnah, saat mengetahui kalau Kakak telah tiada. Kakak mengalami kecelakaan dalam perjalanan ke rumah dengan terburu-buru, dikarenakan pertengkaran kedua orang tuaku yang tiada henti.
Pantas saja Kakak tidak video call lagi.
Sesampainya aku di rumah. Aku langsung terduduk lemas dan aku menangis.
"Ka, aku kangen kakak." Lirihku.
Pantas saja Kakak tidak video call lagi.
Sesampainya aku di rumah. Aku langsung terduduk lemas dan aku menangis.
"Ka, aku kangen kakak." Lirihku.
"Lia." Panggil ibu hati-hati.
Aku tidak menanggapinya.
"Maafkan Ibu."
Aku langsung
menatap ibu tak percaya.
"Ibu sudah tau semua apa yang
telah kamu lakukan untuk kami. Ibu mengetahui semua perjuanganmu. Ibu memang ibu yang bodoh, membiarkan anaknya berjuang sendirian. Ibu kagum, kamu tetap
menjadi anak yang luar biasa, tanpa dukungan mama dan papa. Mama ngga mau lagi
kehilangan anak. Sudah cukup mama dibutakan oleh keegoisan mama. Mama sudah
melihat video itu, yang dikirim oleh teman SMA kamu. Mama sangat menyesal. Maafkan mama Lia." Ucap Mama lemah.
Aku menatap mama iba. Namun, amarahku telah menguasaiku.
"Baru sadar? Dari kemaren
kemana aja? Kau tau seberapa sakit hatinya aku ketika diperlakukan kejam oleh mama! Tapi apa mama tau siapa yang
membuatku menjadi seperti ini? Kakak ma kakak! Aku ingin balas dendam ke mama dan papa dengan cara meninggalkan kalian. Menjemput Kakak agar tidak usah hidup bersama kalian!
Kalian sudah membuat Kakak menjadi mesin uang! Orang tua macam apa kalian?!
Makannya hati itu jangan ditutupi terus, jadi gini kan? Nyesel kan!?"
Amarahku lalu aku meninggalkannya. Aku melangkahkan kaki menuju
kamar Kakak dengan tangisan.
Tanpa sadar aku sudah tertidur di
kamar Kakak. Aku dipindahkan ke kasur dengan selimut yang menutupi tubuhku
disertai biskuit dan susu yang terletak di samping. Perasaan yang sangat
tenggelam kini menaik ke permukaan. Aku senang, ternyata mama memang menyesali
semuanya. Aku berjalan ke meja belajar sekaligus meja kantornya Kakak. Aku
menemukan sepucuk surat di selipan novelku yang pertama.
"Hai adikku sayang. Pasti saat ini kau sedang menangis dan kamu pasti bingung kenapa kakak nulis surat ini? Hahaha. 2 minggu lagi, kamu pulang. Kakak sangat menantikan dirimu. Bagaimana cantiknya kamu, pintarnya kamu, hebatnya kamu. Benarkan kata kakak kamu pasti akan sukses. Kakak suka sekali novel pertamamu. Ini favorit kakak banget. Kamu benar-benar menuangkan semua apa yang kamu rasa. Kau seorang penulis hebat! Kakak sangat bangga padamu. Maaf jika kakak bukan kakak yang pantas untukmu. Maafin mama sama papa ya. Selama kamu disana, Kakak perlahan-lahan membuat mama dan papa mau menerimamu. Mereka sangat menyesal dengan apa yang telah mereka lakukan. Oh iya, kamu buka gih kotak yang terselip diantara buku. Itu ada surat dari Nia lhoo. Adikmu itu, adik kakak juga tentunya. Akur-akur ya sama mama dan papa. Ah, maaf ya kakak sempat tidak menghubungimu selama 3 Bulan. Kakak terlalu asik bekerja."
"Kakak,
terima kasih. Berkat kakak aku bisa menjadi diriku saat ini. Kakaklah yang
sangat aku sayangi," ucapku lirih dan segera mencari surat Nia. "Hmm,
sepertinya ini," ucapku lagi, tanpa pikir panjang aku membacanya.
"Dear Kakaku tersayang. Maafkan adikmu ini yang salah pergaulan. Terima kasih sudah membantu untuk menyembuhkanku. Tetapi memang akunya saja yang payah, jadinya ngga bisa sembuh deh. Aku sayang kakak. Kakak memang kakak yang luar biasa, kembaran yang sungguh hebat. Aku sangat iri padamu, kau memilki semua yang tak kumilki. Aku berpura-pura lemah agar diperhatikan. Tanpa kusangka aku menikmatinya. Sungguh jahatnya diriku, membiarkan saudara kembarnya dimaki-maki. Sekali lagi maaf ya ka. Aku memang kembaran yang bodoh dan kejam."
"Apa-apain ini? Kenapa mereka
hanya meninggalkan surat? Kenapa? Aku ingin kalian ada disini. Aku rindu
kalian, kakak, Nia. Mari kita perbaiki hubungan yang hancur ini." Gumamku.
Aku menuju ruang tengah. Ada papa
dan mama.
Sesampainya aku disana, papa dan mama langsung bertekuk lutut untuk meminta maaf padaku.
Sesampainya aku disana, papa dan mama langsung bertekuk lutut untuk meminta maaf padaku.
"Maafkan papa ya nak. Papa
memang bodoh. Menyia-nyiakan seorang anak perempuan dan membiarkannya berjuang sendirian.
Papa egois." Ucap Papa.
Mama hanya diam sambil menangis. Aku dapat melihat bahwa mereka benar-benar menyesal. Aku memegang tangan mereka agar berdiri. Aku mencium tangan mereka.
"Bagiku mama, papa sehat itu
sudah lebih dari cukup. Jangan tinggalkan aku lagi ya mama, papa." Ucapku.
Papa dan Mama memelukku dengan penuh
kasih sayang. Suasana inilah yang sangat aku impikan dan aku dambakan.
"Papa janji, papa tidak akan
mengulanginya lagi. Kami benar-benar beruntung punya anak sekuat kamu." Ucap
Papa.
"Benar. Kami bangga padamu."
Sambung Mama.
ü
"Ma, Aku
pergi dulu ya."
"Ya hati-hati."
Sudah seminggu aku berada di Indonesia. Selama seminggu pula aku tinggal bersama mama dan papa. Mama dan papa benar-benar sudah menerimaku. Jadi inilah keluarga yang
sesungguhnya. Aku benar-benar senang. Rasanya tidak ingin kembali ke Negeri
Sakura.
"Leo, Rai!" Teriakku.
Mereka menengok dan aku langsung
memeluk mereka.
"Wah ada apa ini?" Goda Leo.
"Aku kangen." Ucapku.
"Kamu benar-benar berubah
ya?" Ucap Rai.
Aku melepaskan pelukanku, "inilah
diriku." Ucapku sambil tersenyum bahagia.
"Kau sudah mau kembali kesana?" Tanya Rai.
"Ya, karena mereka membutuhkanku."
Jawabku.
"Tidak bisakah disini
saja?" Pinta Leo.
"Tidak bisa Leo. Ah, aku akan
pulang 2 bulan sekali selama seminggu. Jadi kalian tenang saja." Ucapku.
"Baiklah, kita tetap komunikasi
ya, tetap hubungi kami sesibuk apapun kamu." Kali ini Rai yang meminta.
"Ah jadi, kita kan sudah lama
pacaran. Bagaimana nanti saat kau kembali kesini kita menikah? Aku sudah
menabung lho. Saat ini aku sedang mengejar gelar S2. Nanti Kamu harus cuti
untuk liburan kita hahaha." Ucap Leo yang semakin ngaur.
"Baiklah, aku menantikannya."
Ucapku.
"Eh? Kau menerima
lamaranku?" Tanya Leo tak percaya.
"Memangnya kau pikir apa? Kau
sendiri yang bilang kalau kita jodoh." Jawabku enteng.
"Wahh, selamat Leo. Akhirnya kau
diakui juga. Memang dari awal aku ngga akan menang darimu." Sambung Rai.
Leo tidak bisa berkata apa-apa. Leo terlalu bahagia. Sedangkan Rai terus menggoda Leo. Senang sekali dapat memiliki
sahabat seperti mereka.
Semua yang telah aku lalui akhirnya
memberikan keindahan yang tiada tara. Aku merasa telah terlahir kembali.
ü
Cerita By: Arthclarin
DILARANG KERAS MENGCOPY. TERIMA KASIH....
SEMOGA PENGUNJUNGI YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBACA INI TERHIBUR DAN DAPAT MENIKMATI CERITANYA ^^
TERIMA KASIH><

Komentar
Posting Komentar